Rabu, 29 April 2026

Ketua DPR Desak Peningkatan Keselamatan Usai Kecelakaan KRL dan KA di Bekasi Timur

admin - Selasa, 28 April 2026 15:30 WIB
Ketua DPR Desak Peningkatan Keselamatan Usai Kecelakaan KRL dan KA di Bekasi Timur
Ketua DPR RI, Puan Maharani

JELAJAHNEWS.ID -Ketua DPR RI, Puan Maharani, menyampaikan belasungkawa mendalam atas kecelakaan antara kereta rel listrik (KRL) dan kereta api (KA) jarak jauh di kawasan Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, yang terjadi Senin (27/4/2026) malam. Insiden tersebut mengakibatkan 14 orang meninggal dunia dan 84 lainnya mengalami luka-luka.

"Atas nama pribadi maupun atas nama DPR RI, saya sampaikan dukacita mendalam untuk para korban dalam kecelakaan kereta api yang terjadi semalam di wilayah Bekasi," ujar Puan, Selasa (28/4/2026).

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kecelakaan bermula dari sebuah taksi listrik yang terhenti di perlintasan sebidang di kawasan Bulak Kapal. Kendaraan tersebut kemudian tertabrak KRL yang melintas menuju Jakarta. Akibat kejadian itu, rangkaian KRL berhenti di jalur rel.

Baca Juga:
Tidak lama berselang, KA Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah belakang menabrak rangkaian KRL yang tengah berhenti. Benturan keras menyebabkan lokomotif KA masuk hingga ke gerbong khusus wanita di bagian belakang KRL.

Puan menegaskan, insiden ini menjadi pengingat pentingnya peningkatan sistem keselamatan transportasi kereta api, terutama di jalur padat seperti wilayah Jabodetabek.

"Kita minta Pemerintah, KAI, bersama pemangku kepentingan terkait untuk lebih memprioritaskan persoalan keselamatan di jalur kereta api. Sistem dan keamanan harus diperbaiki," tegasnya.

Ia secara khusus menyoroti kondisi perlintasan sebidang yang masih banyak ditemukan di berbagai wilayah. Menurutnya, rendahnya tingkat keamanan di titik tersebut kerap menjadi penyebab kecelakaan.

"Terutama pada perlintasan sebidang yang masih banyak kita temukan di sepanjang jalur kereta. Karena keamanannya sangat kurang, kecelakaan sering terjadi dan ini harus disikapi dengan serius," imbuh politisi Fraksi PDI-Perjuangan tersebut.

Lebih lanjut, Puan menilai kecelakaan ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga berpotensi memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap transportasi publik, khususnya KRL yang menjadi tulang punggung mobilitas di kawasan metropolitan.

"Dalam sistem mobilitas perkotaan seperti Jabodetabek, KRL bukan sekadar moda angkut massal, melainkan infrastruktur sosial yang menopang aktivitas ekonomi, pendidikan, dan pekerjaan masyarakat setiap hari," jelasnya.

Menurut Puan, meningkatnya frekuensi perjalanan, penggunaan lintasan yang sama oleh berbagai jenis kereta, serta terbatasnya ruang toleransi terhadap gangguan membuat sistem transportasi kereta semakin kompleks. Oleh karena itu, keselamatan tidak cukup hanya berbasis prosedur operasional, tetapi harus ditingkatkan melalui standar pengamanan yang lebih kuat dan terukur.

Ia juga menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh pascakejadian. Pemerintah dan operator diminta memastikan adanya pembaruan standar keselamatan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

"Justru setelah insiden seperti ini, operator dan Pemerintah perlu menunjukkan bahwa standar keselamatan diperbarui secara nyata, terukur, dan dapat dipahami masyarakat," ujarnya.

Puan menambahkan, investigasi atas kecelakaan ini harus menghasilkan pembelajaran struktural guna mencegah kejadian serupa terulang. Ia berharap masyarakat tetap melihat KRL sebagai moda transportasi yang aman dan dapat diandalkan.

"Yang terpenting, masyarakat harus yakin bahwa menggunakan KRL tetap merupakan pilihan transportasi yang aman, rasional, dan didukung oleh sistem keselamatan yang terus diperkuat," tutup Puan.(jn/**)

Editor
: editor
SHARE:
 
Tags
 
Komentar
 
Berita Terbaru