oleh

Madu Disebut Sebagai Obat Alternatif Paling Ampuh Atasi Pilek dan Batuk

JELAJAHNEWS.ID, JAKARTA – Apakah kamu mengalami masalah pilek dan batuk karena kondisi tubuh yang kurang fit? Lalu, untuk mengatasinya, kamu terbiasa mengandalkan obat antibiotik untuk mengobati masalah kesehatan tersebut?

Maka cobalah mulai sekarang dengan melupakan obat antibiotik untuk mengatasi pilek dan batuk yang kamu alami. Sebab, penelitian baru menemukan bahwa madu merupakan obat yang lebih ampuh mengatasi batuk dan pilek.

Dalam studi yang diterbitkan dalam jurnal BMJ Evidence-Based Medicine, para ilmuwan Universitas Oxford menemukan fakta bahwa madu adalah obat alternatif yang efektif untuk mengatasi pilek dan batuk.

Tak hanya itu, madu juga dipercaya sebagai bahan alami yang digunakan dalam perawatan gangguan pernapasan ringan. Menurut laporan New York Post, dalam tinjauan dan analisis terhadap 14 penelitian termasuk pengalaman 1.761 peserta studi, para peneliti menemukan bahwa madu secara konsisten lebih berhasil dan lebih cepat memperbaiki gejala termasuk frekuensi dan keparahan batuk daripada pengobatan lainnya.

“Madu lebih ampuh dari perawatan biasa untuk perbaikan gejala infeksi saluran pernapasan atas,” kesimpulan peneliti.

Madu tidak hanya menjadi obat yang lebih efisien, tetapi para peneliti juga menekankan bahwa madu tidak memiliki efek samping. Berbeda dengan obat antibiotik, mengkonsumsinya secara berlebihan akan meningkatkan risiko resisten antibiotik yang nantinya membuat tubuh kita kebal terhadap obat, dan ini sangat membahayakan.

“Madu dapat membantu menghambat penyebaran resistensi antimikroba karena obat. Dengan begitu, madu menyediakan alternatif antibiotik yang tersedia secara luas dan tidak ada efek sampingnya,” tambahnya.

Karena data ini, peneliti Universitas Oxford berharap agar para dokter meresepkan madu ke dalam pengobatan pasien, khususnya pada kondisi batuk dan pilek.

“Madu adalah obat awam yang sudah sering digunakan dan karena itu, untuk pasien ISPA, kami merekomendasikan madu sebagai alternatif antibiotik,” tulis peneliti. (okz)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

News Feed